Showing posts with label Notes. Show all posts
Showing posts with label Notes. Show all posts

Saturday, 6 June 2026

Tujuan dari Sebuah Perjalanan

Tujuan dari sebuah perjalanan sesungguhnya bukanlah untuk menemukan seseorang yang mampu menyelamatkan kita dari sebuah nestapa, tetapi untuk menjadi seseorang yang tak lagi membutuhkan penyelamatan ketika duka datang menghampiri.

Untuk waktu yang lama, saya telah belajar bahwa orang-orang yang tepat yang dikirim takdir dalam lintasan kehidupan kita akan membantu kita memperbaiki segala hal yang patah dihempas duka nestapa. Mereka adalah orang-orang pilihan yang akan membantu kita memperbaiki segalanya. Bahwa suatu saat, pada waktu yang telah ditentukan oleh takdir, mereka akan datang pada kita dan tiba-tiba hidup kita pun akan terasa kurang menyakitkan lagi. Rasa sepi yang bersarang di dada kita akan lenyap, bagian yang patah pun perlahan terpulihkan.

Tetapi kenyataannya, tidak ada seorang pun yang bisa menyatukan setiap patahan dan menyembuhkan setiap goresan luka di tubuh rasa kita. Mereka yang dikirim takdir dalam kehidupan kita mungkin mencintai kita sepenuh jiwa. Mereka berjalan di sisi kita dengan menggenggam tangan kita erat. Mendukung segala hal yang kita lakukan. Tetapi ada pertempuran di dalam diri kita yang hanya bisa kita hadapi dan lawan seorang diri.

Karena itu, salah satu hal yang paling penting di dalam hidup kita adalah ketika kita mampu menyadari bahwa kita telah menjadi penyelamat untuk diri kita sendiri.

#fragmen

Sunday, 16 August 2020

Tentang Kebenaran

(Kepada Rumah Putih Caca) 

Kebenaran, seperti apa pun wajahnya, 
tidak diperbudak oleh apa pun.
Ia berdiri tunggal,
lepas dari segala jenis kekuasaan.
Ia tak memihak,
bebas dari semua jenis transaksi.
Ia bahkan tak terikat oleh rasa.

Jika seseorang yang di bibirnya meneriakkan kebenaran dengan lantang,
namun hatinya diombangambing oleh resah
hingga koyak dimangsa duka ketika kesunyian tiba padanya,
percayalah, itu hanya gumam belaka.

Tetapi, ketika seseorang yang merasa benar bertafakur dalam sunyi
dan bertemu keheningan yang menyejukkan hatinya
hingga kebeningan air mata jiwanya menetes dan membasahi hatinya,
maka percayalah,
ia sedang menikmati kebenaran yang paling nyata.

Maka bersyukurlah!

Cahaya kebenaran itu masih berpijar di dadamu. 

Makassar, 2019


Gambar: Private Collection









Sunday, 27 May 2018

Sajak yang tumbuh di dalam Rumah Putih

“Wahai orang-orang yang tumbuh dalam sebuah rumah dan yang memiliki rumah di antara keluasan hatinya, berbahagialah karena kenangan telah menjelma menjadi sajak pada setiap hati.
Sepertinya, tempat untuk melelapkan diri yang terbaik adalah pada sebuah Rumah,
Rumah yang telah menyatu dengan hidup kita sendiri.
Rumah yang…”

Penggunaan prolog dan epilog dalam sebuah buku pada mulanya tidak dimaksudkan untuk menjadi pengantar dan penutup dari sebuah karya. Pasangan prolog dan epilog awalnya merupakan sisipan atau lampiran pada karya sastra, terkhusus pada drama.

Prologos pada masa Yunani kuno memiliki posisi yang jauh lebih penting bila dibandingkan dengan prolog di masa modern, sebab ia berperan memberi penjelasan atas adegan-adegan yang akan disajikan.

Prolog pada sebuah karya sastra berisi satu atau beberapa keterangan atau pendapat penulis mengenai naskah yang akan disajikan. Karena itu, tugas utama dari sebuah prolog adalah membeberkan situasi dalam naskah sehingga membangkitkan minat pembaca atas isi dari naskah tersebut.

Jika prolog menjadi pembuka, maka penutupnya disebut epilog. Pada umumnya, epilog berisi amanat atau kesimpulan sebuah naskah. Dari epilog inilah pembaca memetik hikmah dari sebuah naskah yang telah disajikan penulis. Karena itu, dalam epilog pembaca akan mudah menemukan pesan-pesan moral, tatanilai, maupun ferleksi tentang hidup dan kehidupan.

Prolog dan epilog dengan fungsinya masing-masing tentu saja memegang peran yang penting dan berbeda dalam penyajian sebuah karya. Karena itu, keduanya ditulis secara jelas dan tuntas agar menjadi pelengkap dan penyempurna atas karya yang disajikan penulis.

Kutipan yang mendahului tulisan ini adalah sebuah epilog yang menjadi lembar terakhir pada sebuah antologi puisi. Membaca bagian “Rumah yang …” membuat kita sadar bahwa epilog yang dituliskan belumlah selesai. Lantas mengapa dicantumkan dalam buku tersebut?

Sebagian pembaca mungkin akan menjadi gelisah dan mulai menerka tentang kalimat lanjutan dari epilog tersebut. Bagaimana tidak, sehimpun puisi telah ditulis oleh tiga generasi dari sebuah keluarga yang hidup serumah dan menyisakan sebuah epilog yang tak tuntas.

Jika seseorang datang kepada saya dan bertanya tentang buku yang berkesan dalam hidup saya, sudah pasti buku Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah yang saya tulis bersama keluarga saya inilah yang akan menjadi jawaban saya, meski saya juga menyadari bahwa setiap buku yang saya baca atau menyelipkan tulisan saya selalu membawa kesan dan kisahnya sendiri.

Buku ini menjadi istimewa bagi saya bukan hanya karena potongan epilog yang ditulis oleh seorang Ahyar Anwar (Sastrawan an Budayawan asal Sulawesi Selatan) beberapa jam sebelum kepergian beliau menghadap sang Pencipta. Buku ini merangkum ingatan-ingatan saya tentang sebuah keluarga, tentang sebuah ikatan, tentang cinta kasih yang terus bertumbuh dalam lipatan-lipatan waktu, tentang kepergian, tentang jarak, tentang rindu yang memanggil dan menjadi alasan untuk “pulang”, serta tentang mereka yang berkunjung ke Rumah Putih dan menitipkan kisah pada setiap dindingnya. Terlebih ingata-ingatan perjalan bersama sosok guru dan kawan berdiskusi “Penghuni Rumah Putih”, Almarhum Ahyar Anwar, dari beliaulah kami memetik banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Akan tiba sebuah hari di Rumah Putih dengan hujan yang lari dari musimnya dan kami menunggumu berdiskusi di teras Rumah Putih dengan seseduh teh dan sepring pisang goreng.



#KataHati #Katahatichallenge #Katahatiproduction 



Sunday, 18 October 2015

Kekasih

Seorang kekasih mungkin adalah seseorang  yang menghabiskan separuh waktu dalam hidupnya untuk mencintaimu, menjaga senyumanmu agar tetap merekah dan menadah air matamu ketika harus menetes. Meminjamkan bahunya saat kau merasa lelah dan berlari kearahmu saat kau merasa terluka.

Seorang kekasih mungkin juga adalah seseorang yang masih berjuang untuk mendapatkan tempat yang layak di hatimu sehingga ia layak untuk kau sebut kekasih, layak untuk kau genggam tangannya atau layak untuk kau tunjukkan kepada dunia. Seseorang yang bejuang mengumpulkan banyak “kelayakan” untuk kau banggakan.

Seorang kekasih mungkin pula adalah ia yang pernah membuat air matamu mengalir tanpa jeda, menorehkan luka bahkan benci yang meluapkan amarah dalam hatimu. Seseorang yang tiba-tiba menjadi musuh yang tak kau beri ruang untuk merasakan kebahagiaan.


Namun, pernahkah kau menemukan seseorang yang mampu mengalirkan sunyi ke dalam hatimu bahkan ketika kau berada dalam keramaian; mengajakmu mengarungi samudra rindu yang meski dengan ribuan ombak namun jiwamu menyambutnya dengan suka cita; membuatmu tertawa, menangis, bahagia, dan terluka sekaligus namun kau tetap merasa nyaman bersamanya? Jika jawabanya adalah ‘Iya’, maka dialah yang mungkin paling  pantas kau sebut kekasih.

picture by: Mr. U

Wednesday, 4 March 2015

Love and Death; The Ever Lasting Question.

Di dunia ini, ada dua hal yang tak pernah tuntas dipertanyakan. Dua hal yang kadang membawa seseorang tiba pada perenungan terdalam di dirinya hanya untuk menemukan jawaban atas dua hal yang masih menjadi misteri, sebab tak pernah menemukan jawaban yang pasti yang bisa dijadikan pijakan atas pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Dua hal yang juga kadang memabawa seseorang tiba pada kegamannya sendiri untuk berdamai pada sesuatu yang dianggap sebagai jawaban atas apa yang dipertanyakannya itu.

Cinta dan Kematian; sesungguhnya adalah dua hal yang selalu membawa seseorang tiba pada pertanyaan-pertanyaan yang tak tuntas hanya dengan sebuah jawaban saja.

Peranahkah seseorang bertanya, mengapa dia jatuh cinta?
Aku dan kamu tentu saja pernah terjebak pada pertanyaan itu. Kemudian, pada salah satu malam yang sunyi dan hening kita mencoba menuju hati kita yang paling sunyi dan bening untuk menemukan jawaban sederhana atas pertanyaan tersebut. Kesunyian dan keheningan hati yang bening terkadang menyimpan harapan atas pertanyaan-pertanyaan yang tak sanggup dijawab oleh logika. Kesunyian dan keheningan seperti memiliki tangan-tangan ajaib yang mampu mengurai setiap kebingungan yang dibawa kehidupan ke dalam diri seseorang.

“Aku jatuh cinta padamu karena seluruh keindahan yang ada pada jiwamu mampu membuatku damai.” Sebuah suara yang dibisikkan oleh keheningan hati kita yang kita anggap sebagai jawaban terbaik untuk lepas dari peratanyaan sederhana, “Mengapa aku mencintaimu?”
Suara yang lain dari hati kita juga berkata, “padanya, Tuhan telah menitipkan takdir cintaku”, dan suara-suara yang lain pun mulai berbisik bergantian sebagai suatu alasan untuk mempertegas keragu-raguan kita sendiri yang kita sangka sebagai jawaban, yang sesungguhnya hanya menjadi pembenaran atas ketakutan-ketakutan kita dari pertanyaan yang tak akan pernah tuntas itu.

Jika seseorang tak menemukan kedamaian dari keindahan jiwa yang disemai keksaihnya, masihkah dia akan mencintainya? Atau ketika luka cinta merambati jiwanya, masihkah dia menganggap Tuhan telah meletakkan takdir cintanya itu pada seseorang yang disebutnya kekasih, atau dengan pasrah bekata bahwa takdir cintanya mungkin diletakkan pada hati yang lain yang msaih harus ia temukan?
Pada wajah cinta, ada banyak luka yang terbalut rapi oleh keindahan pandangan saja. Jika seseorang menatap pada kedalaman cinta dengan kebeningan hati dan jiwanya, maka dia akan menemukan sebuah kenyataan tentang cinta yang sesungguhnya adalah sebuah jalan menuju kematian yang indah.

Seseorang yang berada dalam cinta harus “membunuh” dirinya sendiri untuk tiba pada yang dicintainya. Dia harus mampu menggoreskan hatinya pada ketajaman rindu yang tak terikat oleh ruang dan waktu dan membiarkan dirinya hidup dalam ilusi-ilusi tentang kebahagiaan tanpa peduli seberapa dalam perih rindu itu telah menggores hantinya. Jiwa yang ada padanya harus mampu menatap kelemahan-kelemahannya sendiri setiap kali ia berkaca pada mata jiwa sang kekasih. Mungkin karena itulah, cinta menjadi tugas terberat sekaligus teragung yang dipercayakan pada manusia sebagai mahluk yang memiliki “rasa”.

Perpisahan atau kehilangan sesungguhnya adalah bagian dari wajah cinta. Meski tak ada perpisahan atau kehilangan yang  tak menyakitkan. Namun, jika seseorang mampu membaca misteri yang terangkum pada perpisahan atau kehilangan tersebut, maka ia akan tiba pada sebuah jawaban yang merujuk pada kemurnian cinta.

Andai seseorang itu pernah mengalami perpisahan atau kehilangan sosok yang menjadi penanda atas keriangannya, maka ia tentu mampu memahami betapa sayatan kehilangan itu memerah seluruh dirinya dalam ketakberdayaan yang ikhlas dan tentu saja membuka mata jiwanya untuk menatapi sebuah kenyataan tentang kedalam rindu dan cinta yang terkuak setelah perpisahan atau kehilangan tersebut. Namun, tak ada perpisahan atau kehilanagn yang paling sempurna selain sebuah kematian. Meski sesungguhnya, kematian adalah tanda cinta sang pencipta terhadap apa yang telah diciptakan dimana roh terbebas dari kungkungan jasad yang selama ini menawannya dengan berbagai drama kehidupan semu. Sungguh sebuah cinta yang membesakan. Tetapi, Jangan pernah mempertanyakan kapan kematian itu tiba. Sebab kedatangannya tak terbaca seperti kedatangan cinta yang tiba di hati seseorang dengan tiba-tiba. Dan yang pasti, Cinta dan kematian adalah sepasang kebenaran yang tidak akan pernah tuntas kita pertanyakan.

Catatan Akhir Februari

(Published: http://t.co/9G3MeFXDqg)

Sunday, 2 March 2014

Nyanyian Keabadian Rindu dan Sebuah Kepulangan


“Tersenyumlah untuk Allah yang telah menciptakan perpisahan dan menitipkan rindu pada setiap hati, kerinduan itulah yang akan menunjukkan padamu sebuah jalan kecil yang agung menuju segala kenangan yang berhenti pada satu hasrat tentang dunia.”
(DR. Ahyar Anwar, 1970-2013)

Kerinduan adalah keabadian rasa yang dititpkan Tuhan dari sebuah perpisahan, sedang perpisahan adalah jalan bagi hati untuk saling menemukan. Kita tidak akan memahami keindahan sebuah kebersamaan tanpa adanya perpisahan. Dan kita tidak akan bisa mengecap manisnya kerinduan jika kita tidak pernah terpisah. Bukankah pada awalnya kita semua tidak saling mengenal, tidak saling bertemu tatap, dan tidak saling merindukan? Namun, atas keajaiban yang jatuh dari cinta Tuhan yang Maha Rahman, menyusun keindahan benih-benih kerinduan di hati kita pada sebuah takdir pertemuan. Pada takdir pertemuan itulah akan lahir kebersamaan dimana Tuhan menyusupkan kekekalan rasa yang terus tumbuh menjadi sebuah keajaiban kenangan. Dan dari keajaiban kenangan itulah keabadian rindu terjaga.
Karena itu, saat kau terpisah dari orang yang engkau kasihi, bersyukurlah! Sebab Tuhan sedang meletakkan keajaibannya dalam hatimu. Ia sedang menata hati indahmu dengan keindahan cinta yang saling menumbuhkan rasa rindu. Jikapun rindu itu terasa perih dan menyakitkan, itu hanya bagian dari bahasa keindahannya saja. Dekaplah! Dekaplah dengan segenap kelembutan rasa yang engkau miliki kemudian alirkan ia pada kebeningan air mata yang jatuh dari keindahan jiwamu. Resapi setiap perih yang engkau rasakan, maka ia pun akan jatuh pada sebuah sunyi yang hening. Dan pada sunyi yang hening itulah akan kau dapati muara dari segala rasa rindu yang merekah di hatimu. Sunyi adalah tempat sakral atas kerinduan yang saling memeluk keabadian kenangan. Ia tumbuh pada jiwa yang menjaga keindahannya seperti bulan yang menjaga keindahan malam atau matahari yang menjaga hangat siang. Keduanya saling melengkapi untuk sebuah keabadian kenangan.
Maka, jika seorang kekasih ingin merasakan nikmatnya kerinduan, ia harus masuk pada jiwanya yang sunyi dan bening. Karena pada kesunyian dan kebeningan jiwa itulah ia mampu mendengarkan suara-suara kerinduannya sendiri berbisik tentang sebuah keindahan dan rasa syukur kepada Tuhan yang terbingkai kelembutan doa karena telah menuliskan perpisahan pada takdir pertemuan mereka dan mengekalkan keabadian rindu yang nyata.
Hawa yang sejatinya adalah ibu kita, juga terlahir dari sebuah sunyi yang panjang. Allah yang Pengasih menciptakan Hawa dari kesunyian yang menyesak dari salah satu rusuk Adam. Kesunyian yang merekahkan cinta dan rindu yang bening. Keduanya kemudian bermukim di taman surga yang penuh keindahan sebelum akhirnya terpisah untuk mengecap sunyi dan rindu secara bersamaan. Mereka  diperjalankan pada sunyinya masing-masing tentu saja untuk saling merindukan. Dan dari kerinduan itulah, langkah-langkah kaki sunyi mereka menyusun sebuah pertemuan yang abadi. 
Kebeningan kerinduan itupun yang membuat seorang Rabiah Al-Adawiyah tak henti-hentinya bertasbih dan berzikir mengingat sang Kekasih sejati. Hingga ia pun sering kali dilanda ketakutan akan hal-hal lain yang akan menyeret ingatannya menjauh dari Sang Kekasih yang dirindukan. Perempuan suci ini telah melazimi sebuah sunyi yang indah. Ia bahkan menjadikan sunyi malam sebagai kendaraan yang mengantarkannya bertemu dengan sang Kekasih penggenggam jiwanya. Maka tatkala malam telah berlalu, hanya kesedihan dan kerinduanlah yang tersisa di hati heningnya.
Seperti itu pulalah Ruh yang bermukim di dalam tubuh kita, yang berasal dari sebuah keindahan sunyi dan rindu Yang Maha Rahman. Atas nama cinta yang sunyi dari Muhammad-lah sehingga Allah meniupkan cahaya kasihNya kedalam tubuh kita. Menitipkan sebuah kehidupan dan membentangkan jarak yang maha luas sebagai penakar kerinduan sang Ruh atas Kekasih sejatinya. Kelak, tatkala Ruh tak kuasa menanggung sunyinya dan Sang Kekasih tak mampu lagi menahan kerinduan atas Ruh yang telah dibiarkan terpisah dariNya, maka Dia pun akan memanggilnya pulang. Tentu saja sebuah kepulangan yang tak biasa. Melainkan sebuah kepulangan yang merengkuh segala keindahan pertemuan dan menjadi jembatan penyatuan rindu dari yang Maha Merindu. Sebuah kepulangan yang akan menghapus segala duka dan perih rindu.

Karena itu wahai jiwa-jiwa yang merindu, masuklah ke dalam sunyimu yang paling sunyi. Temukan kedamaian rindumu di sana dan kembalilah kepada Rabbmu dengan suka cita.