Sunday, 21 October 2012

We are all in the gutter, but some of us are looking at the stars.
                                                                          (by Oscar Wilde)


Seperti seorang musafir,
Kupijakkan kaki di antara lorong-lorong
Yang berisi sunyi, berkhalwat,
Mengikuti setitik cahaya tanpa warna,
Tanpa tau ke mana akan menepi

Angin meniupkan aroma tanpa rasa
Membisikkan dzikir-dzikir alam,
Penuntun para pencari yang terilhami

Sesaat, ngilu mencekam di kerongkongan
Sesak di dada,
Kaku di sekujur tubuh,
Gemeter, berguncang
Namun tak terhempas
Sebab Cahaya berlahan melingkupi

Wujudku lenyap,
Sirku lenyap,
Lebur dikeheningan yang Maha Hening
Sang Cahaya pun meninggi menegaskan arah
Menampakkan pijar yang menyala-nyala


Mata terpejam, tak kuasa memandang
Inikah Cahaya sumber segala Cahaya?

Hati berpasrah, tak mampu berucap
Menikmati rindu yang lahir dari rahasiaNya
Hening, lebur dalam segala rasa.

                                              (Makassar, Friday 19 October 2012)

Picture: Private Collection

Friday, 12 October 2012

Tenang
      Damai
            Sunyi
                  Sepi
                        Sendiri
                                 Diam,
Ahhhhhh.....
MATI !

Duka dan lara pun bersatu

Pergilah dengan tenang
Jasadmu
Telah ku abadikan di pusara jiwaku...

 *Pada sebuah jiwa, kau abadi dalam ketiadaanmu
Kakimu tak berhenti melangkah
Sampai serasa nyodot cakrawala
Tapi hatimu diam bertapa
Disemayami oleh Allah Azzawajalla
Tangan bergerak dan terus bergerak
Sampai gunung-gunung dipeluknya
Tetapi Qalbu bisu bersila
Di gua rindu kepada Sumber Segala Cahaya

Akal fikiran bergolak mengembarai benua-benua
Sultan, yang ditanamkan di dalam inti Ruh manusia
Menembus ke dalam bumi
Menguak batas-batas langit
Tetapi, FUAD menginti ke zarrah cinta
Mewahid dengan Cahaya Tauhid

Dunia menjadi racun
Bumi penuh bisa
Tanah menjadi sawah, ladang penghancuran
Udara dihisap oleh nafsu menjadi partike-partikel kebodohan massal
Tapi hatimu terus bersujud,
Hatimu terus dan terus bersujud
Dituntun oleh kerinduan ke pada Sang Maha Wujud

Jiwamu terus bersila, bertapa
Karena engkau adalah salik sejati
Yang merdeka dari penindasan dunia yang maya
Karena engkau adalah pejalan Cinta yang bebas dan sanggup mengatasi segala fata morgana


                                                                                    (#Kidung Sufi, Candra Malik) 

Monday, 8 October 2012

"Music is the language of the spirit.."
                                  (Me)
"No one can LIE..
No one can HIDE anything,,
when he LOOKS directly into someone's EYES.."
                                                                          (Me)
Break my heart with the truth before you lose me and my trust with your lies...
You must be honest with yourself, before you can be honest with others, then and only then you can claim to be an honest person....
Truth eventually it will snap back at you....
The truth doesn't cost you anything, but lies will cost you everything.

- I rather you tell the truth , it might hurt....
But, these lies you keep telling to save me the pain,
hurt TWICE as more...
Be careful when you stretch the truth.....
   
(Brian J Townsend)

Terimakasih untukmu,
Yang menjadikan aku ada dari sebuah ketiadaan makna yang menenggelamkanku
Karena kau, kutemukan keberadaanku

Terimakasih untukmu,
Yang mengajarkan aku sebuah ketulusan dari sebuah pengingkaran yang tak membaca jejakku
Karena kau, kutemukan bayanganku

Terimakasih untukmu,
Yang telah menuliskan sepenggal bait kehidupan dari sebuah pengorbanan yang tak tercatat oleh zaman
Karena kau, kutemukan langkahku

Sekali lagi, terimakasihku padamu
Yang mengajarkan aku hakikatku hingga kutemukan Tuhanku bersemayam dalam jiwaku

·   Untukmu A, dibawah hujan sehabis Isya’

                                   (Makassar, Saturday, 14 April 2012/ 20:20)

Seumpama aku adalah nama yang tak ingin kau sebut
Maka jangan pernah hadirkan aku di antara gema suaramu
Seumpama aku adalah suara yang tak ingin kau dengar
Maka jangan pernah hadirkan aku di antara helaian nafasmu
Seumpama aku adalah bayang yang tak ingin kau lihat
Maka jangan pernah hadirkan aku di antara pandangmu

Seumpama aku adalah ingatan yang ingin kau hapus
Maka biarkan aku menjauh dari pikiranmu
Seumpama aku adalah kenangan yang ingin kau abaikan
Maka biarkan aku lepas dari keheninganmu
Seumpama aku adalah rasa yang ingin kau endapkan
Maka biarkan aku beku pada sunyimu

Mungkin aku adalah lintasan nama, suara, dan bayang
 Yang telah kekalkan sunyi di heningmu
Tapi aku tak pernah ingin endapkan rasamu di antara sunyi dan heninggnya jiwaku

Kau adalah ibarat yang tak sanggup diungkapkan pada setiap huruf
Sebab kau  mencakup semua makna yang ada

                                   (Makassar, Friday 22 June 2012/17:17)

Friday, 5 October 2012


Seumpama jiwa menemukan cahaya
Mengapa tak bersujud saat mendengar panggilanNYA
Seumpama hati memiliki rasa
Mengapa tak memahami saat mendengar qalamNYA
Seumpama hidup adalah anughrah dariNYA
Mengapa lupa memberi syukur padaNYA

Tak usah memelihara ego di hadapanNYA
Sebab DIA Mahasegala.

                                                       (5 April 2012/16:26)

Pada akhirnya kita dipertumakan pada hamparan rasa yang beku
Kata-kata tak lagi bermakna
Diampun terasa menyakitkan

Terlanjur jalan itu yang kita pilih
Hingga hati terpasung pada kemunafikan rasa
Menenggelamkan segala rahasia yang Dia titipkan

Kini, tak ada lagi mantra yang mesti dituntaskan
Sebab hati telah jauh meninggalkan rasa..

*Yang menenggelamkan Rasa
                                                    (Thursday, 5 April 2012/ 16:16)